Malam itu, aku dan santri berkumpul di sekolah tercinta (SMPTAIS) untuk melaksanakan Dauroh Tahfidz ke-1. Setelah pembukaan, nasehat dan motivasi, kami melakukan aktivitas masing-masing sebelum tidur. Jujur, ketika itu ada perasaan khawatir mengusik jiwaku. Aku khawatir mereka terlalu santai dalam daurah tahfidz kali ini, namun disisi lain, aku percaya bahwa mereka tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Ketika aku hendak tidur malam itu, kulihat salah satu santri (sebut saja A) ada yang menangis terisak sambil menghadap ke arah dinding lantai 3, ku hampiri dan duduk di sisinya sembari menanyakan apa gerangan yang membuatnya menangis sedemikian deras. Ia pun menceritakan penyebab tangisannya, ku berusaha tenangkan dia dan ku bantu kuatkan semampuku, aku paham hari esok adalah hari yang melelahkan baginya, bagaimanapun juga, jangan sampai hal yang mengusik hatinya ini membuatnya terganggu atau bahkan bisa jadi menyerah. Satu jam ku tenangkan dan ku kuatkan dirinya. Hingga akhirnya tangisnya bisa berhenti walaupun aku sangat mengerti hatinya masih terluka.
Keesokan paginya, kulihat santri-santri begitu antusias untuk menghafal firman-NYA, kata demi kata, kalimat demi kalimat begitu keras mereka perjuangkan agar tertanam dalam diri mereka, masyaAllah.
Di kala pagi itu matahari mulai nampak terang, beberapa santri sudah mulai ada yang menyetorkan hafalan baru mereka. Subhanallah, begitu senang hati ini rasanya. Santri yang tadi malam menangis itupun juga menyetorkan hafalannya, ia berusaha tegar dengan apa yang sebenarnya dialaminya, berusaha menyingkirkan hal-hal mengusik yang dapat mengganggu perjuangan menghafal kalam-Nya.
Hari sudah siang, hampir semua santri sudah menyetorkan hafalan baru mereka, bahkan sudah ada beberapa yang setor lebih dari 1 halaman. Namun ada santri (sebut saja B) yang sebenarnya sudah maju untuk setor, namun karena benar-benar tidak lancar dan sangat tersendat-sendat, akhirnya ku minta untuk melancarkan terlebih dahulu walaupun aku tau ia begitu tekun menghafal sedari pagi buta, tapi tak mengapa, itu demi kebaikannya. Namun hingga beberapa kali maju, ia tak kunjung lancar. Sampai akhirnya ketika ia setor di sore hari dengan masih benar-benar tersendat-sendat, kudengar suaranya sudah mulai bergetar, kulihat air matanya sudah di pelupuk mata, akhirnya ku minta dia untuk berhenti setor, lalu ku beri tips, nasihat, yang penguatan hatinya agar tak menyerah walaupun aku paham begitu sesak dadanya ketika ia telah berjuang mati-matian namun hafalannya tak kunjung lancar. Aku pun pernah merasakan hal itu, di tengah nasihat dan motivasiku, ia pun menceritakan beberapa kendalanya dalam menghafal kalamullah. Ia bercerita disertai air mata yang mengalir di kedua pipinya. Salah satu pesanku padanya,
“Tidak mengapa hafalanmu tidak secepat kawan-kawan yang lain, karena menghafal al-Qur’an sejatinya bukan tentang kecepatan, tapi tentang siapa yang bertahan. Bisa jadi Allah lebihkan pahalamu dibanding kawan kawan yang lainnya, karena usahamu menghafal lebih keras daripada yang lainnya. Ingat. Allah menilai seorang hamba dari usaha, bukan dari hasil.”
Di situ ia mulai terbangun lagi kepercayaan dirinya, wajahnya mulai yakin bahwa dengan izin Allah ia bisa menghafalkan satu halaman tersebut. Alhamdulillah beberapa saat kemudian ia maju menyetorkan hafalannya dengan cukup lancar, ku ucapkan Alhamdulillah dan ku berikan ucapan apresiasi kepadanya.
Ketika sore hari, kulihat salah satu santri (A) sedang menangis di tengah-tengah ia menghafal kalamullah, ada 1 halaman yang tak kunjung lancar dihafalkan. Ku hampiri ia, dan kembali lagi ku motivasi serta ku kuatkan hatinya agar tak menyerah, apalagi aku sangat mengerti kala itu hatinya sedang tak karuan dengan beban lainnya selain menghafal, dan itu benar-benar mengusik dirinya. Ku kuatkan dirinya hingga tangisannya akhirnya berhenti.
Beberapa saat kemudian, ia maju dan berhasil menyetorkan hafalannya dengan lancar, begitu bahagia wajahnya ketika ia berhasil menyetorkan 1 halaman tersebut. Ku ucapkan kalimat apresiasi kepadanya.
Dan masih ada santri lain dengan perjuangan yang begitu berat untuk menghafal kalam-NYA, namun mereka tak berhenti sampai disitu, motivasi, keteguhan hati yang Allah berikan, serta tekad yang kuat membuat mereka terus berjuang. Mereka juga beristirahat namun hanya sebentar dan seperlunya saja, selebihnya mereka begitu setia dan berjuang keras membersamai kitabullah.
Satu pesan untuk kalian wahai anak-anakku,
“Menghafal Al-Qur’an bukan tentang kecepatan, tapi tentang siapa yang terus bertahan, Allah uji seberapa istiqomah dan seberapa setia diri kalian dalam membersamai Al-Qur’an.”
Barakallahu fiikum.
Ustadzah Abidah Salimah al-Hafizhah, Walikelas 8 SMPTAIS
