Apa Itu Maggot BSF dan Perbedaannya Dengan Lalat Rumah

Salah satu program kurikulum khas di SMPTA IS dan Paket C Vokasi adalah Life Skill yang terdiri dari beberapa bidang, diantaranya Family Skill. Salah satu programnya adalah membentuk daya tahan pangan pada level keluarga. Pada kesempatan ini kami mengenalkan kepada para santri tentang maggot BSF dan mengapa BSF ini berbeda dengan lalat yang membawa penyakit dirumah kita. Yuk ikuti pembahasan berserinya

Apa itu maggot BSF?

Maggot BSF adalah larva dari Black Soldier Fly (lalat tentara hitam) yang banyak ditemukan didedaunan, dan sampah organik seperti sayuran dan buah busuk. (Purba. 2024. hal 2). Maggot adalah fase kedua dari siklus hidup lalat BSF. (Septiani. 2023. hal 35)

Perbedaan Lalat BSF dan Lalat Rumah

Lalat BSF (Black Soldier Fly) dan lalat rumah (Musca domestica) merupakan dua jenis lalat yang memiliki karakteristik yang sangat berbeda, baik dari segi morfologi, perilaku, hingga manfaat dan dampaknya terhadap lingkungan serta manusia.


Secara fisik, lalat BSF memiliki ukuran tubuh yang lebih besar, berkisar antara 15 hingga 20 milimeter, dan berwarna hitam pekat dengan belang putih di bagian perutnya. Tubuhnya ramping dan menyerupai tawon. Saat beristirahat, sayapnya menempel sejajar dengan tubuh, memberi kesan rapi dan tidak mencolok. Sementara itu, lalat rumah berukuran lebih kecil, sekitar 6–7 milimeter, dengan tubuh berwarna abu-abu kehitaman dan garis-garis gelap di bagian dadanya. Sayap lalat rumah biasanya terbuka saat ia berhenti, dan matanya berukuran besar serta berwarna merah mencolok (Diener et al., 2009).

Dari sisi perilaku, lalat BSF dewasa dikenal tidak agresif dan tidak tertarik pada makanan manusia. Mereka lebih sering ditemukan di lingkungan lembap seperti sekitar kompos, dan tidak hinggap di tempat sampah atau makanan. Sebaliknya, lalat rumah sangat aktif dan tertarik pada makanan, terutama yang manis atau basi. Mereka mudah ditemukan di tempat-tempat kotor seperti tumpukan sampah dan kotoran hewan. Lalat rumah dewasa juga merupakan pemakan aktif, berbeda dengan lalat BSF dewasa yang tidak makan sama sekali, melainkan hanya minum air atau nektar (Barragán-Fonseca et al., 2017).


Dari segi manfaat dan dampak, lalat BSF jauh lebih unggul. Larvanya dikenal sangat efisien dalam mengurai limbah organik seperti sisa makanan, kotoran ternak, bahkan limbah pertanian. Selain itu, larva BSF juga kaya protein dan dapat digunakan sebagai pakan ternak alternatif yang berkelanjutan. Kompos yang dihasilkan dari proses ini pun memiliki kualitas yang baik untuk pertanian. Sementara itu, lalat rumah justru menjadi vektor berbagai penyakit karena kebiasaannya hinggap di tempat-tempat kotor sebelum berpindah ke makanan manusia. Hal ini menjadikan lalat rumah sebagai hama yang harus dikendalikan (van Huis et al., 2013).


Dalam hal siklus hidup, lalat BSF memerlukan waktu sekitar 40 hingga 45 hari dari fase telur hingga dewasa. Fase larva berlangsung selama dua minggu dan merupakan fase yang paling berguna dalam proses dekomposisi limbah. Di sisi lain, lalat rumah memiliki siklus hidup yang jauh lebih cepat, yaitu sekitar 7–10 hari. Hal ini membuat populasi lalat rumah dapat meningkat dengan sangat cepat di lingkungan yang tidak higienis (Tomberlin et al., 2002).

Secara keseluruhan, lalat BSF bukan hanya aman bagi manusia, tetapi juga memiliki potensi besar dalam pengelolaan limbah organik secara ramah lingkungan dan berkelanjutan. Berbanding terbalik, lalat rumah lebih dikenal sebagai hama yang dapat mengancam kesehatan masyarakat.

Daftar Pustaka

Purba, F. F. & Effendi, E (2024). Budidaya Maggot (Hermetia Illucens). Jawa Barat: Penerbit Adab.

Septiani, W. Sari, E. Ningsi, R. Khomsiyah. Hartini. & Wijaya, R. (2023). Green-Techno Sosiopreneur Ternak Maggot. Yogyakarta: Penerbit Nas Media Pustaka

Barragán-Fonseca, K. Y., Dicke, M., & van Loon, J. J. A. (2017). Nutritional value of the black soldier fly (Hermetia illucens L.) and its suitability as animal feed – A review. Journal of Insects as Food and Feed, 3(2), 105–120. https://brill.com/view/journals/jiff/3/2/article-p105_6.xml

Diener, S., Zurbrügg, C., & Tockner, K. (2009). Conversion of organic material by black soldier fly larvae: establishing optimal feeding rates. Waste Management & Research, 27(6), 603–610. https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0734242X09103838

Tomberlin, J. K., Sheppard, D. C., & Joyce, J. A. (2002). Selected Life-History Traits of Black Soldier Flies (Diptera: Stratiomyidae) Reared on Three Artificial Diets. Annals of the Entomological Society of America, 95(3), 379–386. https://academic.oup.com/aesa/article-abstract/95/3/379/82524?redirectedFrom=fulltext

Van Huis, A., van Itterbeeck, J., Klunder, H., Mertens, E., Halloran, A., Muir, G., & Vantomme, P. (2013). Edible Insects: Future Prospects for Food and Feed Security. FAO Forestry Paper 171. Food and Agriculture Organization of the United Nations. https://www.fao.org/4/i3253e/i3253e.pdf

 

Scroll to Top